Deskripsi RS Indonesia
Tipe RS
: Trauma Center & Rehabilitation
Lokasi RS : Bayt Lahiya, Gaza Utara
Status Tanah : Wakaf dari Pemerintah Palestina
Luas tanah : 16.261 m2
Kapasitas RS : 100 tempat tidur
Lokasi RS : Bayt Lahiya, Gaza Utara
Status Tanah : Wakaf dari Pemerintah Palestina
Luas tanah : 16.261 m2
Kapasitas RS : 100 tempat tidur
Berdasarkan
kebutuhan dan permintaan langsung dari Pemerintah palestina di Gaza pada bulan
Juli 2010, maka bangunan RS Indonesia yang semula hanya terdiri dari 2 (dua)
lantai, maka sekarang di tambah dengan 1 (satu) lantai basement.
Salurkan Dukungan & Bantuan Anda
Bank
Syariah Mandiri (BSM), cabang Kramat
Acc. No. 700.1352.061
Acc. No. 700.1352.061
Bank
Central Asia (BCA), cabang Kwitang
Acc. No. 686.0153678
Acc. No. 686.0153678
a.n Medical Emergency Rescue Committee
Latar Belakang
Sabtu/27 Desember 2008, Israel memulai gempuran
dasyat pertamanya ke Jalur Gaza. Kamis/1 Januari 2009, Tim Medis MER-C bersama
dengan tim Pemerintah RI berangkat ke Gaza guna menyalurkan bantuan kepada para
korban . Akibat agresi Israel selama 22 hari, jumlah syahid tercatat 1.366 orang yang terdiri dari 437 anak-anak, 110 wanita dan 123 lansia. Sementara
jumlah cidera tercatat 5.650 orang (Data dari Kementrian Kesehatan Palestina di Gaza)
Setelah menunggu selama dua pekan di perbatasan, pada
tanggal 17 Januari 2009 Tim MER-C baru berhasil memasuki Jalur Gaza. Ketika
itu, wilayah Gaza masih dalam keadaan puncak serangan. Pada fase emergency setelah Israel memuntahkan rudal dan bomnya ke wilayah Gaza Palestina,
selain mengirimkan relawan medis sebagai Tim Bedah untuk membantu para korban
agresi, MER-C juga menyalurkan amanah dana dari masyarakat Indonesia berupa
bantuan obat-obatan dan mobil ambulans.
Selama sepekan berada di RS Asy Syifa, Gaza City, Tim
MER-C masih banyak menemui korban-korban agresi dengan luka (trauma) berat bahkan harus kehilangan anggota tubuhnya akibat bom dan rudal
Israel yang membabi-buta. Tim MER-C juga melihat bahwa RS di Gaza kewalahan
menampung korban agresi yang begitu banyak, terlebih lagi wilayah gaza utara
yang berbatasan langsung dengan Israel. Sebagai sebuah wilayah perang, Gaza
juga hanya memiliki 1 RS Rehabilitasi, yang tidak luput dari serangan Israel.
MER-C Tanda Tangani MOU Pembangunan RS Indonesia dengan Menkes palestina di Gaza
Jum’at/23 januari 2009, melihat
kebutuhan akan sarana kesehatan khususnya yang berfokus pada Trauma dan
Rehabilitasi serta jumlah donasi dari masyarakat Indonesia yang cukup besar
kala itu, maka Tim MER-C didampingi sejumlah wartawan dari Indonesia bertemu
dengan Menkesa palestina di Gaza, dr. Bassim Naim. Pada kesempatan yang langka
tersebut, dimanfaatkan Tim MER-C untuk menyampaikan rencana pembangunan RS
Indonesia (RSI) di Jalur gaza.
Rencana ini disambut sangat baik. Atas nama rakyat
Indonesia yang diwakili oleh dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT dan atas nama rakyat
Gaza yang diwakili oleh dr. Bassim Naim melakukan penandatanganan MOU
Pembangunan RSI di Gaza. Penandatanganan ini turut disaksikan oleh dr. Sarbini
Abdul Murad (Ketua Presidium MER-C), Drs. HM. Mursalin (Forum Umat Islam), Ir.
Hanibal WY Wijayanta (Jurnalis ANTV), Andi Jauhari (Jurnalis ANTARA) dan para
ulama Gaza.
Keberadaan RSI ini diharapkan bias membantu menangani
pasien-pasien yang mengalami trauma fisik dan merehabilitasi mereka sehingga
mereka bisa mandiri dan beraktifitas kembali.
Mengapa Dinamakan RS Indonesia?
Satu, Karena seluruh dananya berasal dari
masyarakat Indonesia.
Dua, Rumah sakit ini kita
harapkan bisa menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia
dan rakyat Palestina.
Tiga, dengan nama dan
keberadaan RS ini kita ingin memberi pesan bahwa di tanah Palestina ada aset
dan sumbangan dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina.
Lika-liku Program RS Indonesia
Lika-liku Program RS Indonesia
2 Februari 2009 :
Pasca penandatanganan MOU, Tim I MER-C kembali ke
tanah air dan menyampaikan rencana Pembangunan RSI kepada Menkes RS saat itu,
DR. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP(K).
Januari – Mei 2009 :
MER-C menugaskan Tim ke – II untuk menindaklanjuti MOU
RSI. Selama 4 bulan melakukan assessment dan koordinasi dengan berbagai pihak di Gaza, 3 Mei 2009, MER-C mendapat surat
tanah wakaf untuk RSI dari PM Palestina Ismail haniya.
Mei 2010 :
Selama 1 tahun tak kunjung mendapat izin masuk Gaza,
MER-C bersama aktifis dari berbagai Negara mengikuti Misi
Freedom Flotilla (Armada Pembebasan Gaza) dengan menaiki
kapal milik organisasi IHH Turki bernama “Mavi Marmara”.
31 Mei 2010, terjadi insiden penyerangan
kapal “Mavi Marmara” oleh tentara Israel yang menyebabkan 9 aktifis meninggal
dunia dan puluhan luka-luka. Aklitis lain, termasuk Tim MER-C ditangkap dan
ditahan oleh Israel. Harapan menginjak kaki di tanah Gaza untuk melanjutkan
program RSI pun pupus.
Juli 2010 :
Tekanan dunia Internasional yang besar pasca insiden
penyerangan “Mavi Marmara” membuat pintu perbatasan menuju Gaza menjadi “agak
longgar”. Juli 2010, Tim MER-C dengan sejumlah media akhirnya bias kembali
masuk ke Jalur Gaza.
Juli 2010 :
Tim MER-C yang terdiri dari dokter dan insinyur
menjelaskan disain RSI kepada Perdana Menteri Palestina (Ismail Haniyah) dan
Menkes Palestina di Gaza (dr. Bassim Naim).
Agustus 2010 :
Cabang MER-C di Gaza dibuka dan mendapat pengakuan resmi
dari Pemerintah setempat. Pengakuan ini diberikan bertepatan dengan acara
peringatan HUT RI ke-65 yang merupakan HUT RI pertama kalinya diselenggarakan
di Jalur gaza.
8 – 10 Agustus 2010 :
Tim MER-C melakukan Soil Investigation
Test terhadapat tanah wakaf RSI bekerjasama
dengan Fakultas Teknik Universitas Islam gaza. Tes ini kemudian diikuti dengan
survey lahan lebih lanjut untuk mendapatkan data kontur topografi tanah.
9 Desember 2010 – 6 Januari 2011 :
Upaya untuk menembus dan membuka blockade Gaza terus
berlanjut. Kini masyarakat Asia yang tergabung dalam “Asian People’s Solidarity for Palestine” melakukan
konvoi “Asian Solidary Caravan for Gaza” pada 2 Des 2010 – 6
Jan 2011 yang diikuti 160 aktifis dari 13 negara di Asia. Indonesia turut
mengirimkan delegasinya yang terdiri dari 11 aktifis dan 2 jurnalis yang
berasal dari MER-C, Voice of Palestine (VOP), Hilal Ahmar Society Indonesia
(HASI) dan Aqsa Working Group (AWG).
Sempat terkendala izin untuk masuk ke Gaza, akhirnya
konvoi ini berhasil mencapai Gaza pada 2 Januari 2011. Dua relawan MER-C di
Gaza, yaitu Abdillah Onim dan Ir. Nur Ikhwan Abadi turut menyambut kedatangan
konvoi ini.
Sebanyak 5 relawan dari AWG/Pesantren Al Fatah,
kemudian memutuskan untuk menetap di Gaza guna membantu program pembangunan RSI
di jalur Gaza. Kesempatan memasuki Gaza juga dimanfaatkan oleh dua relawan HASI
untuk melakukan survey lebih lanjut mengenai Unit bank Darah (Blood Bank Unit)
yang akan melengkapi RSI.
Dengan bertambahnya 5 relawan, jumlah keseluruhan
relawan Indonesia yang bertugas di Gaza untuk mengawal program Pembangunan RSI
menjadi 7 orang, yaitu : Abdillah Onim, Ir. Nur Ikhwan Abadi, Ir. Edy Wahyudi,
Ir. Ahmad Fauzi, Abdurrahman, Darusman dan Muhammad Husein.
Februari – April 2011 :
Setelah data tanah lengkap dan seluruh disain RSI
disetujui oleh Kemenkes Gaza, maka sesuai dengan prosedur dari Pemerintahan
Palestina di Gaza, pada tanggal 2-3 Februari 2011 MER-C memasang iklan
pengumuman tender pembangunan tahap 1 (Satu) untuk struktur RSI di Koran lokal, Felesteen. Lima kontraktor papan atas Gaza terpilih
untuk mengikuti tender ini.
20 April – 20 Mei 2011 :
Tim Konstruksi MER-C yang diketuai oleh Ir. Faried
Thalib berangkat ke Gaza untuk menentukan pemenang tender dan melakukan kontak
dengan pemenang tender. Namun hingga 1 (satu) bulan di Mesir, Tim MER-C tidak
kunjung mendapat izin masuk ke Gaza. Proses penentuan pemenang
tender pun dilakukan melaluitelekonferens antara Tim MER-C di Mesir, Tim MER-C di Gaza dan para kontraktor di Gaza.
28 April 2011, kontraktor First
Company ditetapkan sebagai pemenang tender
pembangunan tahap 1 (satu) untuk struktur RSI.
Pembangunan RSI pun
Dimulai
14 Mei 2011 :
Pembangunan struktur RSI dimulai. Pembangunan struktur
akan memakan waktu 9 bulan, yang kemudian akan diikuti dengan pembangunan
arsitektur dan ME (Mechanical Electrical).
Dalam program ini, MER-C turut di bantu oleh Pesantren
Al fatah Cileungsi yang menyediakan SDM-SDM relawan yang
memiliki keahlian di bidang konstruksi.
Sementara itu, Hilal Ahmar Society
Indonesia (HASI) juga akan melengkapi bangunan RSI dengan
Unit Bank Darah (Blood Bank Unit)
12 – 24 November 2011, Tiga relawan insinyur MER-C yang di pimpin oleh Ir.
Faried Thalib (Ketua Divisi Konstruksi) berangkat ke Gaza untuk melakukan
supervise langsung pembangunan struktur RSi. Tim ini sekaligus melakukan survey
ketersediaan material untuk pembangunan tahap 2, yaitu Arsitektur dan ME (Mechanical Electrical).
28 April 2012 : Alhamdulillah, atas doa dan
dukungan rakyat Indonesia, pembangunan tahap 1 (struktur) RSi yang terdiri dari 2 lantai dan 1 lantai basement ditambah 1 lantai
area tengah (middle area) telah selesai 100%.
Selanjutnya akan
dilakukan pembangunan tahap 2 berupa pekerjaan Arsitektur dan ME (Mechanical Electrical) rumah sakit. Pekerjaan tahap ini akan
melibatkan lebih banyak relawan dari Indonesia karena pekerjaan arsitektur
& ME seluruhnya akan dilakukan oleh putra-putra bangsa.
Apa Kata Mereka Tentang RSI di Gaza
“Terima kasih rakyat Indonesia atas bantuan Rumah
Sakit yang saat ini sedang dibangun. Wahai rakyat Gaza Palestina yang tercinta,
jangan pernah bersedih karena di belakang kalian ada rakyat Indonesia.”
– Ismail haniyah, PM Palestina
“Lokasi ini (Bayt Lahiyah, Gaza Utara) tepat apabila
dibangun sebuah rumah sakit mengingat posisinya yang berdekatan dengan penjajah
Israel, saat perang korban terbanyak di daerah Gaza Utara ini. Kami lihat rumah
sakit ini cantik berbentuk segi 8, secantik hati rakyat Indonesia yang telah
bersungguh-sungguh dalam membantu saudara-saudaranya di Gaza Palestina. Dengan
segenap kesungguhan kita bersama, insya Allah akan menjadi washilah dan
penyebab tercapainya pembebasan Masjidil Aqsha dan kemerdekaan Palestina.”
– dr. Bassim Naim, Menteri Kesehatan
Palestina di Gaza
“Disain Rumah Sakitnya sangat indah. Rumah Sakit
terindah di kota Gaza. Disainnya berkolaborasi dengan Kubah Shakra.”
– Jamila Shanti, Menteri Urusan
Wanita Palestina di Gaza
“Proyek ini (Rumah Sakit) merupakan wujud kerja keras
dan kerja sama yang sangat luar biasa. Seperti inilah hasilnya jika kita
bekerjasama saling menopang dan melibatkan semua elemen yang ada di Jalur Gaza.
RS Indonesia sebagai sebuah amanah dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina
akan menjadi salah satu RS terbesar di Jalur Gaza bahkan di seluruh wilayah
Palestina. RS Indonesia juga akan menjadi RS utama di wilayah Gaza bagian
Utara.”
– DR. Naji Sarhan, Wakil Menteri PU
Palestina di Gaza
KUNJUNGI website terkait :
http://www.mer-c.org/index.php/rumah-sakit-indonesia-di-gaza-palestina.html
